Sony Serahkan 51 Persen Bisnis TV ke TCL, Apa Dampaknya bagi Konsumen?
Sony Serahkan 51 Persen Bisnis TV ke TCL, Apa Dampaknya bagi Konsumen? Foto: Ros Prabupos--
PRABUMULIHPOS.CO - Sony dan TCL resmi mengumumkan rencana pembentukan perusahaan patungan yang akan menaungi bisnis televisi dan perangkat audio rumahan milik Sony. Dalam skema kerja sama ini, TCL akan menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 51 persen, sementara Sony tetap terlibat sebagai mitra strategis.
Meski kendali operasional berada di tangan TCL, Sony memastikan bahwa merek ikonik seperti Sony dan Bravia tidak akan dihapuskan. Kedua merek tersebut akan tetap digunakan pada produk-produk mendatang ketika perusahaan baru mulai beroperasi, yang ditargetkan pada April 2027.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam strategi bisnis Sony di sektor home entertainment. Selama puluhan tahun, Sony dikenal sebagai salah satu pionir teknologi audio visual, khususnya dalam kategori TV premium. Namun dalam beberapa tahun terakhir, TCL berhasil naik kelas dari produsen TV murah menjadi pemain serius yang mampu bersaing langsung dengan raksasa seperti Samsung dan LG.
Bahkan, dalam berbagai pengujian laboratorium, performa TV LCD buatan TCL dinilai sangat kompetitif. Pada ajang CES 2026, TCL juga memperkenalkan layar terbaru X11L, sebuah TV LCD berukuran besar yang dibekali lapisan Super Quantum Dot untuk meningkatkan akurasi warna dan tingkat kecerahan.
BACA JUGA:iPhone Lawas, Tetap Keren! 5 Model Bekas yang Layak Dibeli di 2026
BACA JUGA:Sony dan TCL Resmi Berkolaborasi Bangun Bisnis TV, Kolaborasi Strategis Dimulai 2027
Dalam pernyataan bersama, Sony dan TCL menegaskan bahwa perusahaan baru akan menggabungkan kekuatan masing-masing pihak. Sony akan menyumbangkan teknologi pemrosesan gambar dan audio, kekuatan merek global, serta pengalaman dalam manajemen rantai pasok. Sementara TCL menghadirkan keunggulan dalam teknologi layar, kapasitas produksi berskala besar, efisiensi biaya, serta sistem rantai pasok terintegrasi dari hulu ke hilir.
Kedua perusahaan menargetkan kesepakatan final dapat dirampungkan sebelum akhir Maret, meskipun pembentukan perusahaan baru masih harus melalui proses persetujuan kontrak dan regulator di berbagai negara.
Sejumlah pengamat menilai kolaborasi ini sebagai respons terhadap tekanan pasar TV pintar yang semakin ketat. Persaingan harga yang agresif dan minimnya diferensiasi fitur membuat banyak produsen sulit bertahan secara mandiri, terutama ketika harus bersaing dengan perusahaan yang memiliki kontrol kuat atas komponen perangkat keras dan volume produksi besar.
Bagi konsumen, kemitraan ini berpotensi menghadirkan TV bermerek Sony dan Bravia dengan harga yang lebih kompetitif berkat efisiensi produksi dari TCL. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran soal pengalaman pengguna, terutama terkait potensi meningkatnya konten iklan di antarmuka smart TV.
Selama ini, TV TCL dikenal menampilkan cukup banyak konten promosi dan rekomendasi iklan yang tidak bisa sepenuhnya dinonaktifkan. Berbeda dengan TV Sony yang umumnya lebih minim iklan dan dianggap lebih ramah pengguna. Jika filosofi perangkat lunak TCL ikut diterapkan pada TV bermerek Sony di masa depan, hal ini bisa menjadi perhatian tersendiri bagi konsumen setia Bravia.
BACA JUGA:Adu Kamera Smartphone Kelas Menengah: Nokia X200 5G vs Galaxy A55 vs Infinix Zero 30 5G
BACA JUGA:Reinkarnasi Blackberry? Unihertz Titan 2 dengan QWERTY Modern, RAM 12 GB dan Kamera 50 MP
Meski demikian, masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak akhir dari kolaborasi ini. Detail mengenai strategi produk, sistem operasi, hingga pengalaman pengguna masih akan ditentukan seiring berjalannya proses pembentukan perusahaan baru.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


