Desainnya mengusung bezel tipis yang menyerupai Galaxy A54. Kombinasi logam dan kaca memberikan kesan kokoh, sementara varian Awesome Lilac mampu menyembunyikan sidik jari dengan baik dan memantulkan efek pelangi yang menarik.
Tonjolan kecil di bagian tombol volume dan daya juga berfungsi sebagai sandaran ibu jari, membuat ponsel yang relatif besar ini lebih nyaman digenggam.
Perangkat lunak dan fitur keamanan
Galaxy A35 menjalankan Android 14 dengan antarmuka One UI 6.1. Semua fitur standar Samsung tersedia, meski Galaxy AI tidak disertakan.
BACA JUGA:Samsung Garap Galaxy Tab S12 Series dan Galaxy Watch Generasi Terbaru
BACA JUGA:Oppo Reno16 Series Bocor: Dimensity 8500, Kamera 200MP, dan Layar OLED LIPO
Salah satu tambahan menarik adalah Samsung Knox Vault, pertama kali hadir di seri A, memberikan lapisan keamanan ekstra.
Dalam pengujian Jon, daya tahan baterai menjadi salah satu keunggulan. Setelah seharian dipakai menonton, bermain game, dan mengirim pesan, baterai masih tersisa sekitar 30%.
Namun, pengisian daya tergolong lambat, yakni 25W, membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk penuh.
Kelemahan Galaxy A35
Meski memiliki layar 120Hz, kecepatan scrolling tidak selalu mulus. Jon mencatat lag saat membuka pengaturan, aplikasi, atau mengambil foto.
Prosesor Exynos 1380 tidak mampu memberikan pengalaman yang sepenuhnya lancar, dan ponsel mudah panas.
Permainan ringan seperti Railbound sedikit meningkatkan suhu, tapi game seperti Pocket City 2 membuat ponsel cepat panas hanya dalam 15 menit.
Streaming musik atau video melalui data seluler juga menimbulkan peningkatan suhu yang signifikan.
Secara keseluruhan, Samsung Galaxy A35 menawarkan pengalaman yang memuaskan di kelasnya dengan beberapa kompromi di sisi performa dan manajemen panas, namun tetap menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan layar besar dan baterai tahan lama di harga sekitar 4 jutaan.