Genteng tanah liat merupakan salah satu jenis atap paling populer di Indonesia.
Genteng ini awalnya diperkenalkan oleh Belanda pada awal abad ke-20 untuk hunian dan pabrik gula, kemudian mulai digunakan secara luas oleh masyarakat lokal.
Saat ini tersedia berbagai jenis genteng tanah liat dengan nama khas, seperti genteng kodok, plentong, garuda, kojer, dan press.
Genteng tanah liat memiliki kemampuan menahan panas, sehingga ruangan di bawahnya terasa sejuk.
Varian modernnya, genteng keramik, memiliki permukaan yang dilapisi glasir sehingga kedap air dan tampak mengkilap.
BACA JUGA:Modal Rp30 Juta Bisa Punya Rumah? Ini Konsep Tiny House yang Lagi Tren 2026
BACA JUGA:Jelang Galaxy Unpacked 2026, Dummy Unit Galaxy Buds4 dan Buds4 Pro Beredar
Atap Genteng Beton
Genteng beton dibuat dari campuran pasir dan semen, dengan tambahan pewarna untuk mempercantik tampilannya.
Proses pembuatannya melibatkan mesin bertekanan tinggi dan pemanasan sehingga menghasilkan genteng yang kuat dan tahan lama.
Genteng beton tersedia dalam bentuk gelombang atau datar. Tipe bergelombang memberikan kesan alami, sedangkan tipe datar menonjolkan tampilan modern.
Karena beratnya yang lebih besar dibanding genteng tanah liat, struktur rangka atap harus cukup kokoh untuk menahan beban genteng beton.
Atap Genteng Metal
Genteng metal semakin digemari karena bobotnya ringan, pemasangan mudah, dan tahan terhadap cuaca. Bahan yang umum digunakan meliputi stainless steel, tembaga, galvalum, spandek (campuran seng dan aluminium), serta variasi seperti multiroof dan millenium.
Genteng metal tersedia dalam bentuk bergelombang maupun datar. Misalnya, genteng millenium tampil datar dengan warna modern, cocok untuk rumah minimalis.
Kekurangannya, genteng metal memiliki konduktivitas panas yang tinggi, sehingga tanpa plafon atau ventilasi yang baik, ruangan bisa terasa panas.