Aksi Demo Ricuh di DPRD Prabumulih Ternyata Simulasi, Ini Tujuannya

Aksi Demo Ricuh di DPRD Prabumulih Ternyata Simulasi, Ini Tujuannya

Aksi Demo Ricuh di DPRD Prabumulih Ternyata Simulasi, Ini Tujuannya--Foto: Prabupos

PRABUMULIH, PRABUMULIHPOS.CO – Halaman Kantor DPRD Kota Prabumulih sempat dipenuhi suasana tegang pada Jumat, 17 April 2026. Ratusan massa terlihat berkumpul dan menggelar aksi unjuk rasa terkait dugaan pencemaran lingkungan yang dikaitkan dengan aktivitas perusahaan minyak dan gas.

Sebelum mendatangi gedung DPRD, massa disebut lebih dulu menyambangi pihak perusahaan. Namun, karena merasa tuntutan mereka tidak mendapat respons memuaskan, aksi kemudian berlanjut ke kantor legislatif.

Aksi tersebut tampak memanas ketika terjadi lemparan kantong plastik berisi air di tengah kerumunan, sehingga menimbulkan kesan kericuhan.

Meski demikian, peristiwa itu bukan kejadian sebenarnya, melainkan bagian dari simulasi Sistem Pengamanan Kota (Sispam Kota) yang diselenggarakan oleh Polres Prabumulih di kawasan Pemerintah Kota.

BACA JUGA:Air Bersih untuk Klamono: Inovasi Pertamina Drilling yang Mengubah Kehidupan Warga

BACA JUGA:Warga Desa Pangkul Harap Jembatan Segera Diperbaiki, Pemkot Turun Tangan

Kapolres Prabumulih, AKBP Bobby Kusumawardhana, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapan personel dalam menghadapi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurutnya, latihan tersebut penting agar anggota kepolisian mampu merespons berbagai situasi di lapangan, termasuk kondisi yang berkembang cepat dan tidak terduga.

Simulasi ini melibatkan personel gabungan dari tingkat Polsek hingga Polres dalam satu rangkaian skenario terpadu. Sebanyak 394 anggota dikerahkan setelah sebelumnya mengikuti latihan intensif sejak pertengahan pekan.

Dalam skenario yang diperagakan, massa digambarkan sebagai warga terdampak aktivitas migas yang menuntut kompensasi atas lahan yang diduga tercemar. Ketidakpuasan terhadap respons pihak terkait kemudian memicu aksi demonstrasi yang berkembang menjadi konflik di depan kantor DPRD.

BACA JUGA:Ketua TP PKK Wonosari dan Anak Petai Resmi Dilantik, Dorong Penguatan UMKM dan Posyandu

BACA JUGA:Pemkot Prabumulih Percepat Pembangunan 45 Koperasi Merah Putih

Pelaksanaan simulasi dibagi menjadi dua tahap, yakni kondisi aman (hijau) dan kondisi meningkat (kuning). Pada tahap awal, situasi masih terkendali dengan aktivitas masyarakat berjalan normal serta adanya patroli dialogis dari aparat kepolisian.

Namun, kondisi berubah ketika tuntutan massa semakin intens disuarakan. Situasi pun berangsur memanas dan sulit dikendalikan. Aparat kemudian melakukan langkah penanganan secara bertahap, mulai dari pendekatan persuasif hingga pengerahan pasukan Dalmas lanjutan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: