Menutup Utang dan Kembali Bangkit

Menutup Utang dan Kembali Bangkit

Menutup Utang dan Kembali Bangkit (1)--Dahlan iskan

Kelima pembicara tersebut yakni Founder Dawang Group Tri Dawang, CEO PT Turrima Agro Mas Mulyono, CEO PT Keraton Agri Ponorogo Syaikhul Hadi, CEO PT Inspirasi Prima Nusantara Fauzi Priambodo, serta Zainur Rohman.

Menurut Dahlan, para pengusaha tersebut memiliki pengalaman panjang dalam melewati masa sulit. Mereka pernah berada dalam kondisi terlilit utang, tetapi kemudian berusaha keluar dan menata kembali bisnis masing-masing.

Salah satu kisah datang dari Syaikhul Hadi.

Sebelum berkecimpung dalam bisnis berbasis syariah, Syaikhul menjalankan usaha sebagai distributor benih dan pupuk pertanian. Ketika bisnisnya berkembang, ia memilih melakukan ekspansi secara agresif dengan memanfaatkan pembiayaan dari perbankan hingga mencapai miliaran rupiah.

Namun, pertumbuhan bisnis tersebut justru membuat pikirannya tidak tenang. Di satu sisi, ia ingin terus memperbesar pasar. Di sisi lain, kewajiban pembayaran utang terus menghantui.

Nasihat dari sang ayah kemudian menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan bisnisnya. Syaikhul akhirnya memutuskan untuk mengubah pola pengelolaan usahanya.

Pada 2018, ia bergabung dengan komunitas yang kini dikenal sebagai SyaREA World. Sejak saat itu, Syaikhul mulai menghentikan kebiasaan mengambil utang dan memilih menyelesaikan kewajiban yang sudah ada secara bertahap.

Dahlan menilai keputusan tersebut bukan perkara mudah bagi seorang pengusaha yang sedang berada dalam fase ekspansi. Menghentikan laju bisnis ketika sedang berkembang membutuhkan keberanian dan perhitungan matang.

Namun, langkah tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Setelah berhasil menyelesaikan utang, bisnis Syaikhul justru berkembang semakin besar. Jika sebelumnya ia hanya berstatus sebagai agen, kini ia telah memiliki pabrik benih dan pupuk pertanian sendiri.

Kisah serupa juga dialami Fauzi Priambodo. Pengusaha tersebut mengaku pernah memiliki kewajiban utang yang mencapai sekitar Rp140 miliar.

Pada awal membangun bisnis, Fauzi mengandalkan pinjaman perbankan untuk memperbesar usaha. Nilainya pada awalnya relatif kecil, sekitar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Seiring waktu, pinjaman terus bertambah karena keinginan untuk memperluas bisnis.

Kondisi itu akhirnya membuat Fauzi menyadari bahwa dirinya sudah terlalu bergantung pada utang.

Masalah semakin berat ketika memasuki 2020. Fauzi mendapatkan kesempatan mengerjakan sebuah proyek besar melalui tender. Namun proyek tersebut ternyata tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Dana yang sudah dikeluarkan akhirnya tersendat dan berdampak langsung terhadap kondisi keuangan bisnisnya.

Dalam kondisi tertekan, Fauzi kemudian berkenalan dengan komunitas SyaREA World. Dari berbagai diskusi yang dilakukan, ia mendapatkan pandangan baru mengenai cara menyelesaikan persoalan keuangan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: