Sulit dapat Pupuk Subsidi, Hasil Karet Merosot

Sulit dapat Pupuk Subsidi, Hasil Karet Merosot

PETANI KARET: Salah satu petani Karet di Kota Prabumulih, sedang melakukan aktivitas menyadap karet di kebun miliknya. Foto: dokumen/prabupos--

PRABUMULIH - Sejumlah petani karet di Kota Prabumulih mengeluhkan tingginya harga pupuk non subsidi. Tak hanya itu, untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, sulit didapat.
 
"Kalau untuk non subsidi, kami petani ini dak akan tebeli. Non subsidi jugo susah, nak dimano sekarang ambeknyo," kata salah satu petani karet di Kawasan Rambang Kapak Tengah (RKT). "Kalau dulu dapat subsidi ikut kelompok, tapi sekarang lagi kosong," ucap Usna salah satu petani karet.
 
Menurutnya, untuk pupuk bersubsidi banyak yang tak berani ambil resiko. Karena itulah, saat ini satu-satunya harapan yakni upaya dari dinas pertanian. "Kemarin kabarnya akan ada upaya dari dinas pertanian, kami tinggal nunggu. Mudah-mudahan biso dapat pupuk subsidi," ujarnya.
 
Sementara itu, petani lainnya Matlihan mengatakan sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan pupuk subsidi.
 
Berdasarkan informasi, kata dia. Pupuk subsidi baru akan datang di pertengahan bulan (Agustus, red). "Kalau mau beli pupuk non subsidi kami rasanya tidak bisa beli karena harga nya naik 100 persen. Biasanya di harga Rp250 ribu per 50 kg sekarang Rp500 ribu per 50 kg," terangnya.
 
Kepala Desa Sinar Rambang, Indarqo diminta tanggapan terkait kelangkaan pupuk dan tingginya harga pupuk non subsidi membenarkan.
 
Bahkan dirinya mengakui, saat ini hasil getah petani merosot. "Jadi sekarang hasil getah karet itu turun jauh, karena tidak pakai pupuk. Mudah-mudahan, nanti segera ada yang subsidi. Sebab kalau yang non subsidi itu sangat tinggi harganya,"tukasnya.(08)

 

Sumber: