Dari Lahan Kosong Jadi Sumber Pangan: Kisah Inspiratif KWT Kemuning

Dari Lahan Kosong Jadi Sumber Pangan: Kisah Inspiratif KWT Kemuning

Dari Lahan Kosong Jadi Sumber Pangan: Kisah Inspiratif KWT Kemuning--Foto: Prabupos

PRABUMULIH, PRABUMULIHPOS.COKenaikan harga kebutuhan pokok yang tak menentu seringkali menjadi tekanan bagi para ibu rumah tangga.

Tri Ningsih, warga Kelurahan Patih Galung, Kota Prabumulih, memilih untuk mengambil langkah konkret daripada sekadar khawatir. Ia memanfaatkan lahan kosong di pekarangan rumahnya untuk menanam kebutuhan pangan keluarga.

Sebelumnya, perempuan berusia 57 tahun ini harus mengeluarkan antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per minggu untuk belanja sayur dan bahan pokok, angka yang terasa berat terutama saat harga melambung tinggi. Dari situ, lahirlah ide sederhana namun efektif: mengubah tanah yang tak produktif menjadi kebun keluarga.

Awal prosesnya penuh tantangan. Tri membersihkan ilalang dan semak, lalu menanam berbagai jenis sayuran serta umbi-umbian. Sayangnya, keterbatasan pengetahuan membuat hasil panennya belum maksimal. Meski lahan sudah digarap, hasilnya belum sesuai harapan.

BACA JUGA:Tukang Bangunan di Sinar Rambang Kini Terlindungi BPJS, Semua Biaya Pengobatan Ditanggung

BACA JUGA:9 Jemaah Umrah Asal Prabumulih Dipastikan Aman di Madinah, Pulang 6 Maret 2026

Perubahan terjadi ketika Pertamina EP Prabumulih Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4, meluncurkan program MUDA BERSAMA (Perempuan Berdaya, Bersama Kelola Sampah). Program ini bertujuan meningkatkan kemandirian pangan sekaligus memanfaatkan limbah rumah tangga secara produktif.

Para peserta mendapatkan pelatihan menyeluruh, mulai dari pembuatan pupuk organik dari sisa sayur, air cucian beras, hingga kompos rumah tangga. Mereka juga belajar tentang tanaman obat keluarga (TOGA), pembuatan jamu herbal, dan strategi pemasaran produk.

Sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning, Tri Ningsih bersama 30 anggota lainnya mengikuti program ini dengan antusias.

Pengetahuan baru tersebut menjadi titik balik: pekarangan yang sebelumnya tak terurus kini tertata rapi, ditanami sayuran, buah, umbi, dan tanaman herbal. Dengan pupuk organik buatan sendiri, tanaman tumbuh subur dan sehat.

BACA JUGA:Warga Prabumulih Soroti Jalan Rusak dan Drainase di Agenda Reses DPRD Sumsel

BACA JUGA:Mangkir Kerja Berbulan-bulan, ASN Pemkot Prabumulih Resmi Diberhentikan

Dampak positif langsung terasa. Sebagian besar kebutuhan dapur kini dipenuhi dari kebun sendiri, sehingga pengeluaran belanja mingguan yang dulu mencapai Rp300 ribu kini jauh berkurang.

Selain itu, surplus hasil panen dimanfaatkan untuk dijadikan produk bernilai ekonomi. Wedang beras kencur, jamu instan, kunyit asam, hingga bibit tanaman dijual dengan harga Rp15 ribu–Rp20 ribu per kemasan, sehingga omzet kelompok perlahan mencapai Rp1 juta per bulan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: