ini Program Unggulan Al Haromain Semende Muara Enim

Santriwati usai melaksanakan aktivitas di Masjid--
BACA JUGA:Tebar Keberkahan Bersama Masyarakat, PHR Zona 4 Potong 161 Kurban
Dalam proses belajar di Pondok ini, untuk jenjang MI (Madrasah Ibtidaiyah), khusus Pagi Santri yang Masih Pulang Pergi, khususnya dari Masyarakat Sekitar Pondok Pesantren, Desa Pulau Panggung, Muara Dua, Talang gudnag dan Talang Keli.
Menurut pengelola Pondok, Hj Hujjatul Balegha yang juga merupakan Penyuluh Agama fungsional yang ditugaskan sejak tahun 2020 di Kantor Kementerian Agama Kota Prabumulih ini, Belajar Kepesantrenan berbasis Diniyah Kitab Kuning Yang Dilaksanakan Sejak Bangun Subuh Berjamaah, Belajar Sekolah Pesantren Pagi sampai siang, Dilanjutkan sejak setelah shalat dzuhur berjamaah Sekolah Formal, MTs dan MA sampai Jam Sore. Dilanjutkan Maghrib dan Isya Berjamaah, diisi Kegiatan Tahfidz dan Ngaji Kitab Malam.
BACA JUGA:Sstt.. ! Bank Mandiri Boyong 10 Penghargaan dari FinanceAsia
"Alhamdulillah pesantren Al Haromain saat ini sudah memiliki santri dan santriwati lebih kurang berjumlah 1.000 orang. Antusiasme masyarakat pada pendidikan Agama dan pembekalan generasi muda, tercermin pada banyaknya orang tua yang menitipkan masa depan anak-anaknya kepada Pondok Pesantren Al-Haromain," ujar wanita yang akrab di sapa Hujjah ini.
Selain itu, alumni dari Ponpes Al-Haromain juga sudah tersebar di berbagai bidang pekerjaan dan daerah. Pesantren Al-Haromain, kini memiliki lini pendidikan untuk Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang dikolaborasikan dengan Pendidikan Diniyah Keagamaan atau Kepesantrenan yang berbasis pada Pembelajaran Kitab Kuning.
BACA JUGA:100 Dosen Terima KMA dan Jadi Professor, Ini Daftarnya
Lanjutnya, setiap peserta didik yang bertekad menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Haromain, diwajibkan Tinggal mukim di Pesantren, Memiliki Keunikan yang sedikit berbeda dengan Pesantren Lain. Karna Pondok Pesantren ini Mengizinkan untuk Membangun tempat tinggal sendiri Pemondokan Kecil, yang nyaman untuk ditempati selama menjadi santri. Santri/Wati juga dibiasakan untuk Memasak makanan sendiri agar lebih mandiri.
"Setelah santri keluar dari Pesantren, Pemondokan menjadi wakaf Untuk Pesantren. Namun bila tidak bisa membangun tempat tinggal atau pemondokan, pesantren Juga menyediakan Asrama," bebernya.
BACA JUGA:Viral di Tiktok, Pelaku Maling Iphone di Bandung di Grebek Usai Lokasinya Dilacak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: